Mengurai Narasi Mistis di Balik Goa Selomangleng, Antara Tujuan Wisata dan Nilai Historikal yang Sakral
Kediri-Di lereng bawah Gunung Klotok, Kediri, berdiri sebuah situs batu yang tak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga lapisan cerita yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat: Goa Selomangleng. Ia kerap dibicarakan dalam dua nada: sejarah dan mistis. Sebagian orang datang untuk belajar tentang peninggalan Jawa klasik; sebagian lain datang dengan rasa ingin tahu terhadap cerita-cerita tak kasatmata dari masa lampau.
Dewi Kilisuci dan Tradisi Laku
Dalam tradisi lokal Kediri, Goa Selomangleng sering dikaitkan dengan kisah Dewi Kilisuci, seorang putri mahkota Prabu Airlangga yang memilih meninggalkan kehidupan istana untuk menjalani pertapaan. Narasi ini membentuk identitas spiritual goa sebagai ruang laku — tempat berdiam, menata batin, dan menjauh dari hiruk-pikuk dunia.
Walau tidak semua aspek kisah tersebut dapat diverifikasi secara historis, keberadaannya sebagai legenda memiliki peran penting dalam membentuk makna sosial situs ini. Cerita tentang pertapaan menghadirkan dimensi etis: pengendalian diri, penolakan terhadap ambisi duniawi, dan pencarian keseimbangan batin.
Jejak Sejarah dan Relief Batu

Sumber Foto: Verlian Dinanta
Secara arkeologis, Goa Selomangleng dikenal sebagai situs peninggalan masa Jawa klasik. Dindingnya dipahat dengan relief yang menggambarkan kisah pewayangan, figur-figur manusia, serta simbol religius yang merefleksikan pengaruh Hindu-Buddha pada zamannya. Struktur pahatan pada batu andesit menunjukkan bahwa tempat ini bukan ruang alami semata, melainkan hasil rekayasa budaya dengan fungsi tertentu.
Di bawah goa terdapat sebuah patung Dwarapala. Konon katanya, patung ini ada sepasang dan menjadi penjaga dari tempat suci, dan bagi siapa yang berniat jahat, maka tidak akan bisa memasuki area suci ini.
Bagi peneliti, nilai utama situs ini terletak pada konteks sejarah dan materialnya. Relief-relief tersebut menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah memiliki peran penting dalam lanskap spiritual dan sosial masa lampau. Namun sejarah formal hanya satu sisi dari cerita.
Sejarawan Kediri, Novi Bahrul Munib, menawarkan pembacaan lain yang memperluas pemahaman fungsi awal situs ini. Berdasarkan interpretasi relief yang ia lakukan bersama sejumlah arkeolog, terdapat indikasi bahwa Goa Selomangleng pada masa tertentu mungkin berfungsi menyerupai kompleks pemakaman terbuka. Dalam praktik tersebut, jenazah tidak dikuburkan seperti tradisi pemakaman modern, melainkan diletakkan di ruang terbuka atau ceruk batu dan dibiarkan mengalami proses dekomposisi alami hingga kembali menyatu dengan tanah.
“Narasi bahwa Goa Selomangleng dulunya adalah makam terbuka diambil dari pembacaan relief bersama para arkeolog,” ujar Novi. Ia menekankan bahwa interpretasi ini bukan spekulasi mistis, melainkan hipotesis historis yang berangkat dari ikonografi relief serta perbandingan dengan praktik kematian pada periode Jawa kuno tertentu.
Dalam konteks budaya Hindu-Buddha di Nusantara, terdapat variasi praktik pengelolaan jenazah, termasuk kremasi, pengabuan, hingga eksposur terbuka sebelum sisa-sisa tubuh diproses lebih lanjut secara ritual. Jika hipotesis ini benar, maka fungsi Goa Selomangleng tidak hanya sebagai ruang pertapaan, tetapi juga sebagai ruang transisi—tempat yang menghubungkan kehidupan, kematian, dan kosmologi spiritual masyarakat pada masanya.
Pembacaan ini memperkaya narasi situs: mistisitas yang berkembang di masyarakat modern bisa jadi berakar pada fungsi sakral yang memang pernah melekat pada ruang tersebut. Namun alih-alih memperkuat sensasi, interpretasi ini justru menempatkan Goa Selomangleng dalam kerangka antropologis yang lebih luas—sebagai bagian dari sistem kepercayaan dan praktik ritual masyarakat Jawa klasik.
Membaca Mistis Secara Antropologis
Dalam perspektif antropologi budaya, atribusi mistis terhadap situs seperti Goa Selomangleng bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia muncul dari interaksi antara materialitas ruang, waktu, narasi sejarah, dan konstruksi makna sosial yang berlangsung dalam waktu panjang.
Ruang sakral tidak semata-mata lahir dari klaim supranatural, melainkan dari cara masyarakat memaknai, menggunakan, dan mewariskan fungsi suatu tempat dari generasi ke generasi. Proses ini dapat dijelaskan secara ilmiah melalui kajian antropologi, sejarah, dan psikologi ruang—yang melihat sakralitas sebagai konstruksi sosial dan kultural, bukan sekadar fenomena gaib.
Usia dan jejak material — Keberadaan relief dan pahatan batu yang berasal dari periode Jawa klasik, dipahat berabad-abad lalu menyimpan jejak tangan manusia masa lampau. Dalam banyak kebudayaan, usia yang panjang sering diasosiasikan dengan kemungkinan ia diperlakukan dengan sikap hormat, bahkan sakral.
Narasi pertapaan — Tradisi Jawa mengenal laku tapa sebagai praktik asketis untuk memperoleh ketajaman batin dan kedalaman spiritual. Keterkaitan goa ini dengan figur seperti Dewi Kilisuci memperkuat identitasnya sebagai ruang laku. Ketika sebuah tempat diasosiasikan dengan praktik pengendalian diri dan pengasingan spiritual, maka ruang tersebut cenderung dipahami sebagai memiliki dimensi batin yang khusus.
Ruang tertutup yang hening dan lembab — Secara psikologis, ruang batu yang redup dan bergema mempengaruhi persepsi melalui panca indra manusia. Minim cahaya dan suhu yang lebih dingin menciptakan pengalaman sensorik yang berbeda dari ruang terbuka. Kondisi ini dapat memperdalam refleksi sekaligus memicu imajinasi. Sensasi yang muncul kemudian sering ditafsirkan sebagai “aura” atau “energi”, padahal secara ilmiah dapat dijelaskan melalui faktor lingkungan dan respons psikologis manusia terhadap ruang tertutup.
Relasi dengan tokoh bangsawan atau spiritual — Legenda mengenai Dewi Kilisuci memberi legitimasi simbolik terhadap kesakralan tempat. Dalam masyarakat Jawa, tokoh bangsawan yang memilih laku spiritual memiliki posisi moral yang tinggi. Ketika sebuah situs dikaitkan dengan figur semacam itu, ia memperoleh otoritas naratif yang memperkuat persepsi sakral.
Mistis dalam konteks ini bukan sekadar soal ada atau tidaknya makhluk gaib, melainkan cara masyarakat memberi makna pada ruang. Tempat yang diyakini pernah menjadi lokasi laku spiritual akan terus diperlakukan sebagai ruang dengan dimensi batin, bahkan ketika fungsi resminya berubah menjadi destinasi wisata.
Laku Tirakat Malam Hari
Dalam tradisi lokal, berkembang keyakinan bahwa Goa Selomangleng pernah—dan dalam skala tertentu masih—digunakan untuk laku tirakat pribadi. Beberapa warga menyebut bahwa pada malam-malam tertentu, seperti malam Suro dalam penanggalan Jawa, ada individu yang datang untuk bermeditasi atau memanjatkan doa.
Praktik ini tidak bersifat massal dan tidak terorganisir secara resmi, melainkan dilakukan secara personal sebagai bagian dari perjalanan batin masing-masing.
Dalam konteks budaya Jawa, tirakat dipahami sebagai upaya pengendalian diri melalui konsentrasi batin. Goa Selomangleng, sebagai ruang tertutup dan minim distraksi, secara alami mendukung praktik semacam itu. Karena itu, pemilihan lokasi Goa Selomangleng lebih berkaitan dengan karakter ruangnya yang sunyi dan sejarahnya yang dipercaya memiliki energi, bukan semata karena atribut mistis yang benar-benar melekat.
Secara antropologis, keberlanjutan praktik tirakat di situs bersejarah menunjukkan bagaimana ruang dapat mempertahankan fungsi simboliknya meski telah bertransformasi menjadi destinasi wisata. Aktivitas personal tersebut tidak serta-merta menjadikan goa sebagai pusat ritual esoterik, melainkan memperlihatkan bagaimana individu memanfaatkan ruang yang dianggap hening untuk kebutuhan refleksi spiritual. Di sinilah batas antara sejarah, pengalaman personal, dan persepsi sakral saling bertemu secara wajar dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pada akhirnya, memahami Goa Selomangleng tidak cukup hanya dari cerita. Tempat ini perlu didatang dan dirasakan secara langsung — baik sebagai situs sejarah maupun sebagai ruang refleksi.
Berlokasi di lereng bawah Gunung Klotok dan hanya sekitar 3–5 kilometer dari pusat Kediri, akses menuju goa relatif mudah. Dari Alun-Alun Kota Kediri, perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 10–15 menit melalui jalan beraspal yang sudah tertata baik.
Bagi pengunjung dari luar kota, Kediri dapat dicapai melalui jalur darat maupun kereta api menuju Stasiun Kediri atau penerbangan domestik menuju Dhoho International Airport, lalu melanjutkan perjalanan singkat ke kawasan wisata.
Infrastruktur yang semakin baik menjadikan situs ini mudah diakses tanpa harus mengurangi nuansa alami lereng perbukitannya. Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyambut baik segala bentuk positif yang membangun pariwisata-pariwisata di Kabupaten Kediri. “Saya selaku kepala daerah sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang sifatnya untuk introspeksi diri, untuk melihat apa yang sudah kita lakukan dan akan kita lakukan,” ucapnya.
Mengunjungi Goa Selomangleng bukan sekadar agenda wisata, melainkan kesempatan untuk membaca ulang hubungan antara sejarah, mitos, dan cara manusia memberi makna pada ruang. Di antara pahatan batu yang berusia ratusan tahun dan cerita yang terus diwariskan, pengunjung diajak untuk tidak hanya melihat, tetapi juga memahami.
Barangkali di sanalah daya tarik sejatinya: bukan pada sensasi mistis yang dilebih-lebihkan, melainkan pada kesadaran bahwa setiap ruang menyimpan lapisan waktu dan tafsir. Dan di Goa Selomangleng, lapisan itu masih terbuka bagi siapa pun yang datang dengan rasa ingin tahu dan sikap hormat.
