Krisis BBM, Indonesia Bersiap dengan Ramai-Ramai Bersepeda. Akankah Ini Menjadi Wajah Baru Jakarta?
Jakarta-Ancaman krisis BBM sebagai dampak dari ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran semakin nyata setelah setelah penyesuaian tarif BBM per 18 April serta negara Filipina dan Bangladesh yang resmi mengeluarkan darurat energi. Negara lainnya, seperti Korea, mulai meminta warganya untuk melakukan penghematan pemakaian gas harian.
Walaupun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN masih tahan menghadapi kenaikan energi hingga akhir tahun, Indonesia tetap diminta untuk bersiap-siap menghadapi situasi serupa jika kondisi ini berlangsung berkepanjangan dan cenderung tidak membaik.
“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan,” jelas Purbaya.
Dalam usaha menggunakan energi secara bijak, masyarakat mulai berbondong-bondong mencari cara agar bisa tetap bertahan di tengah situasi ini. Tujuannya bukan semata mempertahankan suplai bahan bakar nasional, tetapi juga melakukan penghematan pengeluaran secara cermat di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Beberapa memilih memperbanyak penggunaan moda transportasi umum, namun banyak juga yang memilih bersepeda sebagai pilihan alternatif mobilitas. Pemerintah daerah juga mulai menerapkan regulasi. Di beberapa kota/kabupaten, Aparatur Sipil Negara (ASN) diminta untuk bersepeda ke kantor dalam upaya mengurangi penggunaan BBM.
Dari satu-dua gerakan di jalan, lama-lama sepeda sudah tidak asing lagi berkeliaran di jalan menjelang jam kantor.
Bagi masyarakat, sepeda dirasa menjadi alternatif kendaraan yang paling relevan dalam menjawab krisis energi ini. Bukan tentang transportasi jarak jauh seperti ke kantor, masyarakat juga mulai marak bersepeda untuk transportasi jarak dekat yang mungkin berjarak di bawah 5 kilometer.

Ketidakpastian kebijakan energi, ditambah dengan kendaraan listrik yang belum sepenuhnya dirasa sebagai solusi akibat fluktuasi tarif listrik, mendorong masyarakat untuk kembali melirik alternatif yang sebelumnya sempat dianggap usang: sepeda.
Namun kali ini, pergeseran ini tidak hanya dilihat sebagai respon sementara terhadap krisis. Ada upaya untuk menjadikannya sebagai perubahan yang lebih berkelanjutan. Hal ini juga ditegaskan oleh Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, yang melihat momentum ini sebagai peluang untuk membangun kebiasaan baru. “Akan kami dorong menjadi budaya kerja yang melekat,” tegasnya.
Tren yang sempat bersinar di era pandemi ini sayangnya perlahan meredup. Di Indonesia, komunitas Bike to Work (B2W) adalah salah satu penggerak utama kampanye penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi pekerja kantoran dan profesional muda.
Stephanus Hendro Subroto, Ketua Umum Perkumpulan Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia (B2W Indonesia), berharap ini bukan menjadi gerakan sementara, melainkan keberlanjutan. “Sejak lama, masalah di Indonesia tidak hanya krisis energi, tetapi juga polusi udara dan kemacetan. Besar harapan kami bahwa gerakan ini bukan sementara saja, tetapi bisa bertahan dan menurunkan ketergantungan kita pada kendaraan bermotor.”
“Tentunya kami siap menjadi rumah untuk membimbing pesepeda-pesepeda muda agar terus bersepeda dengan aman,” pungkas Hendro.
Pelaku bike to work, Dwi Julian (@djulsu) juga menyuarakan pendapatnya sebagai pelaku yang sudah menjalankan bersepeda ke kantor sejak 2 tahun lalu. Baginya krisis ini bisa menjadi dampat positif jika dimaknai dengan baik oleh masyarakat. “Memang tidak 100% lepas dari BBM, tetapi setidaknya bisa 90%,” jelas Dwi.
Bagi pengguna sepeda Polygon Strattos itu, bersepeda tidak harus dimulai dari perjalanan jauh. Perjalanan jarak pendek seperti belanja ke minimarket atau beli makanan saja sudah cukup untuk berdampak bagi bumi. “Nggak perlu ekstrem, maksudnya harus wow sepedaan jauh-jauh, nggak. Mulai dari kita ke minimarket, cari sarapan di sekitar komplek pakai sepeda. Biasakan aja dulu.”
Menemukan Sepeda yang Tepat untuk Aktivitas Sehari-Hari

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap bersepeda sebagai alternatif mobilitas, berbagai pertanyaan pun bermunculan di media sosial—mulai dari jenis sepeda yang tepat hingga rekomendasi brand yang sesuai untuk penggunaan harian. Dalam percakapan tersebut, Polygon, brand sepeda asal Indonesia, kerap menjadi salah satu nama yang paling banyak disebut.
Menurut Hendro, Polygon dikenal sebagai brand lokal dengan kualitas yang telah teruji, namun tetap menawarkan harga yang relatif terjangkau bagi berbagai kalangan.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Dwi Julian, pengguna Polygon selama dua tahun terakhir. Ia mengaku sepeda miliknya, Strattos S2, memberikan kenyamanan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk perjalanan ke kantor. “Sepeda saya Strattos S2, dan nyaman sekali untuk gowes ke kantor,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa sepupunya yang sebelumnya tidak terbiasa bersepeda, mulai bike to work setelah beralih menggunakan sepeda listrik Kalosi Miles. “Awalnya karena keadaan, tapi ternyata langsung bisa beradaptasi,” tambahnya.
Untuk kebutuhan mobilitas harian, Polygon menghadirkan beragam pilihan sepeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tidak selalu harus menggunakan sepeda balap, sepeda kategori urban seperti Polygon Zeta Velo dan Path Series menjadi pilihan yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari di perkotaan.
Selain itu, Polygon juga menawarkan lini sepeda listrik dengan teknologi pedal assist, yang memberikan dorongan tenaga sesuai kayuhan. Seri seperti Kalosi Miles dan Kalosi Lanes EVO dikenal luas karena kemampuannya mendukung perjalanan hingga jarak yang lebih jauh, dengan daya tahan baterai yang dapat mencapai hingga 100 kilometer.
Dari kebutuhan yang lahir karena krisis, bertransformasi menjadi pilihan yang lebih sadar—baik dari sisi efisiensi, kesehatan, maupun keberlanjutan lingkungan.
Jika tren ini terus berkembang dan didukung oleh ekosistem yang memadai, bukan tidak mungkin bersepeda akan menjadi pemandangan yang semakin umum di jalanan kota. Pertanyaannya, apakah ini hanya fenomena sesaat, atau justru awal dari perubahan yang lebih besar?
Di tengah krisis BBM, Indonesia tampak mulai bersiap dengan cara yang berbeda—ramai-ramai bersepeda. Dan mungkin, ini bisa menjadi awal dari wajah baru Jakarta.
