Friderica Widyasari Dewi: Srikandi Pertama Pimpin OJK, Rekam Jejak 20 Tahun di Pasar Modal dan Harapan Publik untuk Pemulihan Kepercayaan
Jakarta – Komisi XI DPR RI secara mufakat menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026–2031. Penetapan ini dilakukan pada 11 Maret 2026 setelah uji kelayakan dan kepatutan, sekaligus menjadikannya perempuan pertama yang memimpin lembaga pengawas jasa keuangan terbesar di Indonesia. Pengamat dan publik langsung menyambut positif, melihat pengalaman lintas regulator-pelaku pasar yang dimilikinya sebagai modal kuat untuk memulihkan kepercayaan masyarakat pasca-dinamika pasar modal beberapa bulan terakhir.
Profil Singkat “Kiki” Widyasari
Lahir di Cepu, Jawa Tengah, pada 28 November 1975, Friderica Widyasari Dewi — yang akrab disapa Kiki — memiliki latar belakang akademik solid di bidang ekonomi dan keuangan. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2001, Master of Business Administration (MBA) Finance dari California State University Fresno, Amerika Serikat (2004), serta Doktor Ilmu Ekonomi UGM dengan predikat cum laude (2019). Disertasinya membahas struktur kepemilikan, nilai perusahaan, dan risiko di pasar modal Indonesia.
Sebelum terjun ke dunia keuangan, Kiki sempat berkarier singkat di dunia hiburan sebagai model dan aktris sinetron (di antaranya Angling Dharma dan Panji Manusia Millenium). Namun sejak 2005–2006, ia sepenuhnya beralih ke sektor keuangan dan membangun karier selama lebih dari dua dekade.
Kiprah Panjang di Dunia Keuangan
Rekam jejak Friderica dimulai di Bursa Efek Indonesia (BEI):
- 2006–2008: Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI
- 2007–2009: Sekretaris Perusahaan BEI
- 2008: Staf Khusus Menteri Keuangan RI
- 2009–2015: Direktur Pengembangan BEI (berkontribusi besar pada pendalaman pasar dan peningkatan jumlah investor ritel)
- 2015–2019: Direktur Keuangan dan Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Di bawah kepemimpinannya, KSEI berhasil mempercepat digitalisasi layanan dan memperkuat keamanan sistem penyimpanan efek, yang menjadi fondasi kepercayaan investor.
