Advertisement
Mundurnya Perry Warjiyo: Ujian Terbesar Bank Indonesia, Kepercayaan Pasar, dan Masa Depan Ekonomi Nasional

Mundurnya Perry Warjiyo: Ujian Terbesar Bank Indonesia, Kepercayaan Pasar, dan Masa Depan Ekonomi Nasional

mynewsindonesia 28 Juli 2026 • Penulis: mahmud yunus

JAKARTA — Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) sebelum berakhirnya masa jabatan menjadi salah satu peristiwa ekonomi paling menyita perhatian pada tahun ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, serta dinamika pasar keuangan internasional, perubahan kepemimpinan di bank sentral tidak hanya dipandang sebagai pergantian pejabat negara, tetapi juga sebagai ujian terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia.

Bagi pelaku pasar, persoalan utama bukan sekadar siapa yang meninggalkan kursi gubernur, melainkan siapa yang akan mengisi posisi tersebut dan apakah arah kebijakan moneter Indonesia akan tetap konsisten.

Dalam hitungan jam setelah kabar pengunduran diri mencuat, pasar langsung bereaksi. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan, indeks saham bergerak melemah, sementara investor asing mulai mencermati perkembangan politik dan ekonomi yang menyertai proses pergantian pimpinan bank sentral.

Fenomena tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan. Di hampir seluruh negara, bank sentral merupakan institusi yang menjadi jangkar kepercayaan (anchor of confidence). Ketika muncul ketidakpastian mengenai kepemimpinan bank sentral, pasar akan menyesuaikan ekspektasinya terhadap risiko.

Perry Warjiyo dan Warisan Kebijakan Moneter

Sejak menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2018, Perry Warjiyo menghadapi berbagai tantangan besar.

Ia memimpin BI ketika pandemi COVID-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi dunia. Bersama pemerintah, BI menjalankan bauran kebijakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk menjaga likuiditas perbankan, menopang pertumbuhan ekonomi, dan memastikan sistem keuangan tetap stabil.

Ketika inflasi global melonjak akibat perang Rusia-Ukraina dan bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga secara agresif, Perry kembali menghadapi ujian. Di bawah kepemimpinannya, BI memilih langkah yang terukur: menaikkan suku bunga secara bertahap sambil tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi domestik.

Strategi tersebut dinilai berhasil menjaga inflasi Indonesia relatif terkendali dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Di sisi lain, rupiah tetap berada dalam kisaran yang dapat dikelola melalui kombinasi kebijakan suku bunga, intervensi pasar valas, dan pengelolaan likuiditas.

Namun yang tidak kalah penting adalah gaya komunikasi Perry Warjiyo. Ia dikenal konsisten menyampaikan arah kebijakan (forward guidance), sehingga pelaku pasar memiliki pegangan dalam membaca langkah-langkah BI.

Karena itu, pengunduran dirinya tidak hanya meninggalkan kekosongan jabatan, tetapi juga mengakhiri satu era kepemimpinan yang telah membangun kredibilitas bank sentral di mata investor.

Mengapa Pasar Langsung Bereaksi?

Pasar keuangan bekerja berdasarkan ekspektasi. Mereka sudah terlanjur percaya terhadap eksistensi Perry Warjiyo yang sudah terbukti mampu menjaga stabilias rupiah. Investor membeli aset bukan hanya berdasarkan kondisi saat ini, melainkan berdasarkan keyakinan terhadap masa depan. Ketika pemimpin bank sentral tiba-tiba mundur, pasar langsung mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar.

Ada banyak pertanyaan di benak investor. Apakah arah kebijakan suku bunga akan berubah? Apakah inflasi tetap menjadi prioritas? Apakah independensi Bank Indonesia tetap terjaga? Selama jawaban atas pertanyaan tersebut belum sepenuhnya jelas, volatilitas pasar biasanya meningkat.

Karena itu, pelemahan rupiah maupun koreksi pasar saham setelah pengumuman pengunduran diri lebih mencerminkan meningkatnya ketidakpastian dibandingkan perubahan fundamental ekonomi Indonesia.

Isu yang paling banyak dibahas oleh ekonom adalah independensi Bank Indonesia.

Sesuai dengan mandatUndang-Undang Bank Indonesia, agar BI menjalankan kebijakan moneter secara independen tanpa intervensi politik jangka pendek. Independensi tersebut penting karena kebijakan moneter sering kali memerlukan keputusan yang tidak populer.

Ketika inflasi meningkat, misalnya, BI mungkin perlu menaikkan suku bunga meskipun langkah tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Apabila bank sentral kehilangan independensinya, keputusan ekonomi dikhawatirkan akan lebih mempertimbangkan kepentingan politik dibandingkan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Bagi investor global, independensi bank sentral merupakan salah satu indikator utama dalam menilai kualitas tata kelola ekonomi suatu negara.

Dampak terhadap Stabilitas Moneter

Secara operasional, Bank Indonesia tidak bergantung pada satu orang. Seluruh kebijakan moneter diputuskan melalui Dewan Gubernur sehingga proses pengambilan keputusan tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pimpinan.nNamun dari perspektif pasar, kepemimpinan tetap memiliki arti penting.

Figur gubernur menjadi representasi arah kebijakan, komunikasi dengan investor, serta kredibilitas institusi.

Apabila proses transisi berlangsung cepat dan menghasilkan figur yang memiliki rekam jejak kuat di bidang moneter, dampaknya terhadap stabilitas rupiah kemungkinan hanya bersifat sementara.

Sebaliknya, apabila muncul persepsi adanya perubahan arah kebijakan secara drastis, volatilitas pasar dapat berlangsung lebih lama.

Pergantian Gubernur BI juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal. Hubungan antara kebijakan moneter dan fiskal tidak dapat dipisahkan. Jika ketidakpastian menyebabkan rupiah melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat, maka biaya utang negara juga ikut naik. Artinya, pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk pembayaran bunga utang. Konsekuensinya, ruang fiskal untuk membiayai pembangunan, subsidi, maupun program sosial dapat menjadi lebih terbatas. Dalam situasi tersebut, koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi semakin penting.

Menarik apa yang diungkapkan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo tidak terlepas dari tekanan politik yang telah dirasakan sejak pelemahan rupiah pada akhir 2025.

Sektor swasta juga menjadi pihak yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter. Perusahaan yang memiliki pinjaman berbunga mengambang akan memperhatikan arah suku bunga acuan BI. Pelaku usaha yang banyak menggunakan bahan baku impor juga akan mencermati stabilitas nilai tukar rupiah. Apabila rupiah melemah terlalu dalam, biaya produksi meningkat dan margin keuntungan tertekan.

Sebaliknya, eksportir justru berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah karena pendapatan mereka dalam mata uang asing menjadi lebih tinggi.

Investor global biasanya menggunakan lima indikator utama dalam menilai suatu negara. Pertama, stabilitas politik. Kedua, independensi bank sentral.

Ketiga, inflasi. Keempat, stabilitas nilai tukar.Kelima, disiplin fiskal.

Pengunduran diri Perry Warjiyo menyentuh setidaknya dua indikator tersebut sekaligus, yaitu independensi bank sentral dan stabilitas kebijakan.

Oleh karena itu, banyak investor memilih menunggu sampai pemerintah mengumumkan calon gubernur definitif sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih besar.

Destry Damayanti: Penjaga Transisi

Penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas memberikan sinyal bahwa kesinambungan kebijakan tetap menjadi prioritas. Sebagai Deputi Gubernur Senior BI, Destry memahami secara mendalam mekanisme kebijakan moneter Indonesia. Pengalamannya sebagai ekonom, mantan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan, serta keterlibatannya dalam berbagai forum ekonomi internasional menjadi modal penting untuk menjaga komunikasi dengan pelaku pasar.

Meski demikian, tantangan Destry tidak ringan. Ia harus memastikan bahwa pasar melihat Bank Indonesia tetap bekerja secara profesional dan independen selama masa transisi.

Siapa Pengganti Perry?

Nama gubernur definitif akan menjadi faktor penentu arah persepsi pasar. Idealnya, figur yang dipilih memiliki tiga karakter utama. Pertama, memahami kebijakan moneter secara mendalam.

Kedua, memiliki rekam jejak kuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Ketiga, mampu menjaga independensi institusi.

Apabila pemerintah menunjuk figur teknokrat yang telah dikenal luas oleh komunitas ekonomi internasional, gejolak pasar diperkirakan dapat mereda lebih cepat.

Sebaliknya, apabila proses penunjukan dipersepsikan lebih mempertimbangkan aspek politik daripada kompetensi, tekanan terhadap rupiah maupun pasar obligasi dapat berlanjut.

Pengunduran diri Perry Warjiyo sesungguhnya menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan atau inflasi.

Yang sama pentingnya adalah kualitas institusi. Bank sentral yang independen, kredibel, transparan, dan konsisten akan menciptakan kepercayaan. Kepercayaan tersebut pada akhirnya menjadi fondasi bagi investasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas nasional.

Karena itu, ujian terbesar Indonesia hari ini bukan semata menemukan pengganti Perry Warjiyo, melainkan memastikan bahwa siapa pun yang memimpin Bank Indonesia mampu mempertahankan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Pasar akan terus mengamati. Investor akan terus menilai. Dan dunia usaha akan menunggu satu hal yang paling dibutuhkan dalam ekonomi modern: kepastian.

Karena itu, Bhima mengingatkan investor untuk mencermati potensi melemahnya independensi Bank Indonesia setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.

“Mengembalikan kepercayaan investor tentu tidak mudah, apalagi arah kebijakan moneter berada dibawah kendali eksekutif. Selama masalah tekanan politik ke BI tidak berhenti, pengganti Perry dari internal tidak akan bertahan lama,” pungkasnya.