Exploride: Membaca Ulang Kediri Lewat Jejak Budaya dan Lanskap
MYNEWSINDONESIA.COM-Di tengah panasnya isu politik, lingkungan, hingga entertainment, akun Instagram @pesona.indonesia baru saja mengeluarkan video terbarunya berjudul Exploride. Exploride adalah sebuah content jalan-jalan menyusuri sebuah kota – uniknya dengan sepeda.
Kali ini adalah kediri, sebuah kota yang kerap diposisikan sebagai titik singgah, bukan kota tujuan. Tetapi dari sinematografi Exploride, penonton seolah diajak untuk menembus ruang wisata Kediri yang jarang dikemas di lain video. Bersama Misbahuddin, sosok content creator pecinta alam, sekaligus rekan dari Fiersa Besari berhasil membawa narasi kayuhan sepeda dengan apik.


Perjalanan dimulai dari mendarat di Bandara Dhoho International yang menyuguhkan layout modern berpadu dengan pewayangan Panji Asmarabangun, yang menceritakan perjalanannya mencari Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kadiri.
Kayuhan sepeda membawa narasi berpindah dari pusat kota di Jalan Dhoho menuju Goa Selomangleng yang sunyi dan sarat akan sejarah. Suasananya yang tenang, goa ini pernah menjadi tempat bertapanya Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga. Konon katanya, ia bertapa pada ceruk-ceruk batu.
Pahatan batu membentuk pola di dinding goa yang tampak pada video ternyata bukan ornamen belaka. Ia adalah simbol dari pengendalian diri untuk mengendalikan hawa napsu dan ego yang menjadi dasar dari proses pertapaan.
Dari Goa Selomangleng, kayuhan berlanjut pada Gereja Puhsarang. Sebuah perjalanan menuju air suci yang segar di Kaki Gunung Wilis, serta Goa Bunda Maria yang terkenal di Indonesia. Poin plusnya adalah Gereja Puhsarang ini terbuka untuk semua agama. Bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi tempat wisata untuk menepi dari hiruk pikuk kota.
Perjalanan dilanjutkan ke Kelok 9 Besuki, dengan jalanan menanjak yang membawa perjalanan pada Gazebo Wilis, sebuah titik pandang di kawasan lereng Gunung Wilis. Perjalanan lelah dengan sepeda yang harus melewati 9 kelokan Besuki terbayar lunas.
Bukan keagungan, melainkan kesederhanaan yang dirasakan pada video tersebut begitu mencapai ketinggian Gazebo Wilis. Bagaimana kita begitu kecil dan semesta ini sangat luas, memberikan sebuah ruang singkat untuk melihat Kediri dari sudut yang lebih luas sebelum perjalanan kembali berlanjut.
Setelah puas menikmati sejuknya Gunung Wilis, Misbah kembali mengayuh sepedanya ke kota. Melewati Jalan Dhoho yang ternyata menyimpan estetika seperti kota Malang. Sepedanya berhenti pada Klenteng Tjoe Hwie Kiong, sebuah klenteng tertua di Kediri yang sudah berdiri sejak abad ke-19.
Klenteng Tjoe Hwie Kiong menjunjung fungsinya sebagai rumah ibadah sekaligus pusat kebersamaan. Ini adalah tempat di mana komunitas menjaga tradisi, nilai, sekaligus identitas budaya.
Singgah sebentar di Simpang Lima Gumul, Misbah kembali mengayuh sepedanya menepi dari Kediri. Sumber Tawang Stable adalah tujuan berikutnya. Ternyata berkuda bisa menjadi aktivitas menarik ketika liburan.


Tidak perlu takut sebagai pemula berkuda di Sumber Tawang Stable, karena teknik dasar menunggangi kuda akan dijelaskan satu demi satu oleh penjaga. Hal paling penting adalah bagaimana membangun ikatan antara kuda dengan penunggangnya.
Perjalanan kembali dilanjutkan semakin jauh dari pusat kota kembali menuju Goa Jegles. Sebuah goa alami dengan jalan setapak kayu menurun yang langsung disambut dengan kolam ikan koi dan sungai alami mengalir di sisinya.
Tetapi kayuhan Misbah tidak berakhir di sana, destinasi selanjutnya adalah melalui kabut di tengah perbukitan bernama Bukit Ongakan. Bukit ini menawarkan panorama luas dengan suasana tenang. Dari punggung bukitnya, hamparan alam terlihat lapang, sering diselimuti kabut tipis yang membuat suasana terasa ringan dan hening.
Menyeberangi Alas Simbar, dan berakhir di tempat wisata ikonik Kediri, Gunung Kelud. Menyaksikan kawah dengan mendirikan tenda sambil menyantap makanan dan kopi hangat menjadi kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.


Iya, video ini tidak sedang mencoba “menjual” Kediri, melainkan mengajak penonton untuk bersepeda, mengelilingi kota, dan membiarkan tempat-tempat wisata memperkenalkan keelokannya masing-masing.
Tentunya ada kerja sama tim luar biasa di balik keberhasilan video ini. Setelah diulik lebih jauh, ternyata video Exploride dibuat oleh Polygon Bikes, sebuah brand sepeda kenamaan asal Indonesia, yang mengadopsi banyak sekali tempat wisata Indonesia. Tujuannya adalah ingin mengangkat banyak hidden gems dari Indonesia.
Bersama Polygon, InJourney dan Dhoho International Airport menyambut karya anak bangsa ini sebagai peluang untuk bisa menyebarkan pariwisata Kediri.
Dari kompleksitas video, tentunya setiap pemilihan tim yang terlibat di dalam video Exploride adalah individu yang berdedikasi tinggi untuk bisa menyulap setiap destinasi wisata agar bisa menyihir penontonnya. Pada kesempatan eksklusif Mynewsindonesia.com berhasil mewawancarai langsung crew Exploride terkait rahasia di balik dapur video ini,
Sutradara Exploride, Rendi Saputra, sekaligus pemain kunci dari Exploride menceritakan dengan gamblang setiap proses dari produksi video. Dari riset lokasi, pemilihan rute bersepeda yang mempertimbangkan ritme cerita, pemilihan tim lapangan, hingga setiap keputusan untuk membiarkan momen berjalan apa adanya.
Bagi pria yang akrab disapa Rendis, setiap perjalanan selalu diawali dengan satu pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah tempat ingin diceritakan. “Kami ingin menempatkan diri sebagai pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu. Dan bersepeda membantu kami memahami jarak, waktu, dan suasana—hal-hal yang sering hilang jika perjalanan dilakukan terlalu cepat,” ujarnya.
Ivanna Tandiono, co-producer dari serial Exploride, menyoroti kerja kolaboratif di balik layar yang menjadi fondasi produksi ini. “Kami memulai Exploride dengan mimpi yang besar bagi Indonesia. Maka dari itu, Exploride selalu kami kerjakan sebagai perjalanan tim, bukan hanya perjalanan di depan kamera. Banyak diskusi kecil hingga tawa yang mewarnai cerita perjalanan kami.”
Sebagai kolaborasi yang mendukung penuh produksi Exploride Kediri kali ini, Poppy Finalia, marketing communication dari Dhoho International Airport menceritakan awal ketertarikannya untuk dengan Exploride. “Kediri tidak terkenal sebagai kota wisata, hanya tempat singgah atau sekadar lewat saja. Padahal kenyataannya ada banyak sekali tempat yang bisa kita eksplor,” cerita Poppy dalam wawancara eksklusifnya pada Mynewsindonesia.com.
“Melalui konten seperti Exploride, kami merasa narasi Kediri bisa tersampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami. Ini bukan promosi satu arah, tapi ajakan untuk benar-benar mengenal kota ini,” lanjut Poppy.
Tentunya semua tidak lepas dari perhatian Pemerintah Kabupaten Kediri. Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, mendukung baik setiap inisiasi untuk mengangkat citra Kediri dan akan memberikan sarana-prasarana terbaik untuk beberapa destinasi wisata ikonik Kediri. “Beberapa wisata unggulan di Kabupaten Kediri harus dilakukan pembenahan dari berbagai sektor, mulai aksesibilitas hingga fasilitas pendukung,” jelas pria yang akrab disapa Mas Dhito.
Lewat sudut pandang yang sederhana, Exploride berhasil membaca ulang Kediri: bukan sebagai kota yang harus dibuktikan, melainkan kota yang cukup didatangi dengan rasa ingin tahu. Tanpa narasi berlebihan, tanpa ajakan yang memaksa, Kediri diperkenalkan apa adanya—dengan budayanya, lanskapnya, dan ruang-ruang sunyi yang selama ini luput dari perhatian. (My/Mynn)
